Semalem, udah enak-enak tidur, saya dibangunin tuan besar, katanya ada sms yang beritanya gawat banget. Langsung saya bangun, lalu membaca sms itu.
Sms itu datang dari sahabat di STM. Dia berkeluh, marah dengan teman-teman yang dia tag foto di facebook. Niat mau memberi kabar teman lama yang sudah lama ngga ada kabar, malah jadi forum ke-lebay-an.
Setiap orang jadi posting kata-kata yang kurang penting. Membuat notifikasi pada orang yang di-tag tiba-tiba membludak. Ketika dibuka, isinya tong kosong.
Yang ingin marah harusnya orang lain yang tidak terlalu berkepentingan dan mendapat banyak email di inbox-nya.
Dasar anak sudah lama ingin menyalurkan hasrat ingin terkenal, semua orang berusaha posting, menarik perhatian, bahkan sekedar posting kata “hhhhmmmmmmmmmm” untuk satu notifikasi.
Sudah terlalu sering dibicarakan. Facebook, tweeter, menjadi ajang seseorang yang bukan siapa-siapa bisa jadi terkenal. Sekedar cuap-cuap, berkicau, menjadi lazim. Pasangan iseng memasang status single padahal sudah menikah, lazim.
Kemudian, masih lazimkah bila hati kita menjadi panas, marah, dengan postingan dan status palsu di facebook? Bila kita marah, nanti di – cap jadi orang yang tidak bisa diajak bercanda. Jika kita menganggap bercanda semua hal itu, apa kita ngga di – cap sebagai orang yang tidak lagi punya hati, punya kepedulian.
Teknologi sekarang memang sontoloyo. Tapi semua pasti ada dua sisi yang berlawanan. Yang cerai gara-gara facebook, itu negatif. Yang dapat uang gara-gara jualan baju di facebook, itu barokah.

